JAKARTA, KOMPAS.com — Rangkaian perayaan 50 tahun komposer dan konduktor Avip Priatna ditutup dengan Konser Emas di Balai Resital Kertanegara Jakarta, Sabtu (24/1/2015). Avip tidak hanya menggandeng para maestro, tetapi juga merangkul penggubah musik muda ke panggung. Misi Avip, memperkaya musik Indonesia dengan repertoar musik klasik.

Selain menampilkan komposisi WA Mozart, Henry Purcell, Frederic Chopin, dan Ismail Marzuki yang masyhur, Avip bersama Jakarta Concert Orchestra yang dipimpinnya juga memainkan dua komposisi ciptaan Fauzi Wiriadisastra dan Alvian Emir Aditya. Fauzi dan Alvian ialah juara kedua dan pertama lomba komposisi orkestra lengkap yang disusun berdasarkan puisi Sia-Sia karya Toety Heraty Roosseno.

“Sungguh indah dua karya mereka (Alvian dan Fauzi),” puji Avip, lalu memimpin Jakarta Concert Orchestra memainkan dua komposisi itu.

Dari jendela jelas/ Merayap menjenguk di lereng atap/ Cerah lingkaran pilu/ Meredup hatiku“.

Bait pertama puisi Sia-Sia diterjemahkan berbeda oleh Fauzi dan Alvian, begitu pula bait-bait berikutnya. Meski demikian, keduanya mampu menyuarakan impresi kepiluan di dalam puisi itu hingga bait terakhir.

Pujian Avip kepada komposer muda itu tidak main-main karena standar penilaian Avip dan juri tinggi. Untuk lomba komposisi paduan suara bertema syukur, misalnya, terpaksa hanya ada juara dua dan tiga karena tidak ada yang memenuhi kriteria untuk menjadi juara pertama.

“Standar tinggi itu supaya semakin bersemangat lagi mencipta,” kata Avip yang lulusan University of Music and Performing Arts di Wina, Austria.

Perkaya musik Indonesia
Selama menekuni musik klasik, Avip melihat repertoar musik klasik Indonesia masih sedikit. Oleh karena itu, lomba-lomba yang ia helat dimaksudkan untuk menambah perbendaharaan musik klasik.

Selain komposisi orkestra, ada lomba dirigen paduan suara, sketch singing (lagu tanpa lirik), dan aransemen lagu tradisional Indonesia. Kompetisi itu memunculkan Ken Steven, komposer muda asal Medan, yang mencipta lagu “Senandung Syukurku”.

Sejak 2010, Avip, konduktor terbaik kompetisi paduan suara internasional 2011 itu, selalu menghelat konser simfoni untuk bangsa. Banyak repertoar dicipta untuk memperkaya musik Indonesia. Banyak pula penggubah musik muncul dari kegiatan-kegiatan itu, seperti Vero Aldiansyah, Renaldi Wicaksono, dan Irsa Destiwi.

Penampilan pertama Konser Emas itu langsung memecahkan kesenyapan ruang pertunjukan. Valentina, Yoanita, dan Batavia Madrigal Singers membawakan “Come Ye Sons of Art” (Henry Purcell). Dua penampilan berikutnya menggetarkan karena lantunan suara Aning Katamsi dan permainan piano Iswargia R Sudarno dan Oerip Santoso.

Iswargia merupakan master musik dari Manhattan School of Music New York yang juga lulusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung. Oerip ialah dokter lulusan Universitas Indonesia yang melanjutkan ke School of Music University of Wisconsin, Amerika Serikat. Pengajar di Teknik Informatika Universitas Parahyangan itu juga master ilmu komputer. (IVV)

http://entertainment.kompas.com/read/2015/01/26/165648710/Konser.50.Tahun.Avip.Priatna.Repertoar.Klasik.Perkaya.Musik.Indonesia