SEBUAH setting khusus yang tak biasa, untuk sebuah acara yang tak biasa, yang dinamai ”opera matinee”. Saat Sang Surya belum mencapai puncaknya di langit, kisah cinta kurang bahagia antara seorang penyair dan pembuat kembang kertas yang digubah oleh komposer opera Italia, Giaccomo Puccini, mengalun di hall pribadi di tengah kota Jakarta yang sibuk.

Opera Matinee dan penggagasnya. Menampilkan aria-aria opera kenamaan. Dari kiri ke kanan Farman Purnama (tenor), Avip Priatna (pianis), Ati Sriati (sopran), dan Giok Hartono (penggagas musik). (Foto-foto: Kompas/Ninok Leksono)

Petikan duet dari opera ini adalah ”O suave fanciulla”, dan dialunkan berdua oleh sang penyair (Rodolfo) dan sang gadis manis tetangga sebelah yang rupanya sakit-sakitan (Mimi). Roman keduanya menghangatkan Latin Quarter, Paris, sekitar tahun 1830. Rodolfo dikisahkan melihat bayangan tubuh Mimi yang memantul karena cahaya Bulan. Ia pun terpesona dan meluncurlah baris-baris pujiannya dalam balutan suara tenor yang bernuansa asmara:

O suave fanciulla, o dolce viso

(O gadis cantik, o wajah nan menawan)

Di mite circonfuso alba lunar

(Bermandikan cahya Bulan nan lembut)

………

Sang gadis yang tengah dirayu itu pun membalas:

Ah, tu sol comandi, amore

(Oh cinta, hanya engkaulah yang memerintah)

Oh! Come dolci scendono

(Oh, alangkah manis pujiannya)

Le sue lusinghe al core

(Menyusup ke hatiku)

Tu sol comandi, amore

(Hanya engkaulah cinta, yang memerintah)

………

Duet diakhiri dengan Rodolfo mencium Mimi.

Itulah duet yang tak asing lagi bagi pencinta opera, lebih-lebih pencinta opera Puccini. Demikian pula dengan aria-aria seperti O mio babbino caro (dari opera Gianni Schicchi), atau Un bel di vedremo (dari Madama Butterfly), atau Vissi d’arte (dari Tosca), juga Chi il bel sogno di Doretta (dari La Rondine).

Bagi penyanyi opera, aria, atau lagu dari opera tadi juga dapat dikatakan standar, atau separuh wajib, jadi tak heran juga bila tenor Farman Purnama, yang kini tengah memperdalam ilmu vokal di Belanda, atau juga soprano asal Bandung, Ati Sriati, menyanyikan aria-aria tersebut seperti melakukan ziarah yang rutin dilakukan. Selain Puccini Ati juga masih menghadirkan aria koloratura dari operetta Johan Strauss Mein Herr Marquis dan Farman masih memilih aria dari opera Faust karya Charles Gounod, tapi tak pelak lagi, aria dan duet Puccini-lah yang dominan dan menggugah hadirin yang memenuhi hall pribadi Giok Hartono di kawasan Widya Chandra, Jakarta, Rabu (13/4) lalu.

Hadirin tertegun tatkala Rodolfo meminta untuk menggandeng lengan Mimi untuk ia ajak ke Kafe Momus (Dammi il braccio, o mia piccina), dan Mimi pun menjawab Obbedisco, signor (Silakan, Tuan). Ketertegunan yang berlanjut ketika sepasang kekasih baru itu menghilang ke belakang hadirin, meninggalkan duet tenor dan sopran memenuhi hall yang senyap….

Opera Matinee rupanya bukan kolaborasi satu-satunya Avip dan Giok. Keduanya, Sabtu (16/4), menampilkan pianis muda Glenn Bagus untuk memainkan karya George Gershwin, ”Rhapsody in Blue”. Bila opera Puccini menghadirkan aura tragedi, juga kehidupan bohemian yang sarat kemiskinan, Gershwin pun pernah mengangkat kehidupan warga kulit hitam Amerika dalam opera Porgy and Bess. Dua arianya juga diangkat dalam konser semarak di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta.

Bila dalam Summertime vokal Lea Simanjuntak tampil indah dan bersih, demikian pula duet masyhur ”Bess, You is My Woman Now”, Rhapsody in Blue sedikit terganggu. Bukan oleh permainan Glenn yang tidak prima, tetapi oleh sistem tata suara yang tidak bersih. Selain permainan Glenn terdengar tidak optimal, denting piano Steinway Grand di atas panggung pun terdengar tak seperti biasanya, indah dan anggun.

Namun, lepas dari kekurangan di atas, kolaborasi Avip Priatna yang sudah kondang dengan kelompok paduan suaranya, juga orkestranya, dan Giok Hartono yang menggagas konser opera dan musikal dalam dua sesi, pekan silam, menjadi obat penawar rindu pencinta musik opera dan musikal klasik.

Tampilnya Avip dan Glenn Bagus saat membuka Opera Matinee dengan Overture opera Carmen (ciptaan Georges Bizet) dan menyisipkan Bella figlia dell’amore dari opera Rigoletto (karya Giuseppe Verdi) menambah excitement tersendiri. Demikian pula ketika di sesi musikal juga ditampilkan duet Farman (sebagai Tony) dan Fitri Muliati (sebagai Maria) dalam Tonight dari musikal West Side Story ciptaan Leonard Bernstein, momen menggugah pun muncul, lebih-lebih bila penonton ingat bahwa itu juga sebuah cinta berujung tragedi bak Romeo dan Juliet. Emosi yang sama juga muncul saat mendengar duet Farman dan Ati Parigi O Cara (dari opera La Traviata karya Verdi).

Dengan prakarsa Giok Hartono yang didukung Avip Priatna dan para pemusik The Jakarta Concert Orchestra, juga The Resonanz Children Choir, Batavia Madrigal Singers, dan Armonia Choir, serta pianis kecil Alicia, konser Sabtu malam itu meninggalkan memori tentang musik-musik indah yang telah hidup dalam memori pencinta musik di seluruh dunia sejak sekitar 200 tahun silam.

Kesediaan berbagi Giok Hartono mencerminkan semangat ”verismo” yang juga ditangkap oleh Puccini bahwa musik indah tak harus tentang raja atau dongeng dari zaman dulu, tetapi tentang penyair melarat seperti Rodolfo dalam La Boheme.

Meski Glenn belum mencerminkan permainan piano yang bergaya ebulient—yang hidup, menggelora, sarat dengan energi, sebagaimana gaya sang komposer Rhapsody in Blue—justru di situlah makna penampilannya malam itu. Melalui perantaraan Giok dan Aviplah ia kini punya pengalaman baru menafsirkan ciptaan Gershwin.

Disertai semangat dan keinginan berbagi, semua lalu mengalir, menghadirkan kebahagiaan, tidak saja bagi pemusik dan penyanyi, tetapi juga pencinta musik. (Ninok Leksono)

Sumber: Kompas, Kamis, 21 April 2011