Menerjemahkan musik klasik agar mudah diterima masyarakat awam.

Picture2

DI depan deretan pemain biola, sang konduktor itu berdiri. Dengan sedikit gerakan tangan, mulailah orkestra yang terdiri dari puluhan orang itu melantun. Sekilas gubahan lagu klasik itu tampak bagus-bagus saja di telinga awam. Namun, sang konduktor yang punya telinga lebih awas rasanya tak kunjung puas dengan hasil paduan nada. Beberapa kali, ia mengernyitkan dahi, kadang tak sungkan menghentikan permainan musik untuk mengingatkan hal penting.“Bagian verse-nya kita harus sama-sama,” katanya. Ia pun mengarahkan pandangan ke belakang, pada barisan trompet dan alat tabuh yang baru saja terdengar tak seirama dengan pemain biola di depan. Tak berapa lama, latihan itu disela kembali. “Pergantian mood harus terasa, ya,” lanjutnya. Disusul berapa angguk an oleh pemain, tempo lantunan musik pelan-pelan naik, jadi tinggi kemudian tiba-tiba menjadi lirih. Itu menciptakan gelombang emosi yang naik turun.

Sore itu, Avip Priatna dan para pemain orkestra sibuk berlatih tiga buah karya untuk konser The Symphony of My Life yang akan diadakan Sabtu (3/12) mendatang di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran. Menurut profesor yang mengajarnya dulu di Austria, gaya Avip saat menjadi konduktor mirip dengan Leonard Bernstein, seorang konduktor legendaris Amerika yang namanya mendunia. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, Bernstein terkenal akan gayanya yang tegas dan dinamis. Itu agaknya memang mirip dengan tampilan Avip kala latihan sore itu. Tiga persembahan Di antara sekian banyak konser, The Symphony of My Life memang terasa sangat spesial karena konser ini menandai 20 tahun kariernya sebagai seorang konduktor. Maka, pemilihan karya pun tidak main-main. “Tiga babak yang kita bawakan merupakan karya yang memengaruhi hidup saya sehingga menjadi konduktor sampai sekarang ini,” ujarnya di selasela latihan, Rabu (30/11).

Picture1

MI/GRANDYOS ZAFNA MI/GRANDYOS ZAFN LATIHAN MENJELANG KONSER: Konduktor Avip Priatna bersama musisi pendukungnya menggelar latihan menjelang konser The Symphony of My Life, di Apartemen Palm Court, Jakarta, beberapa waktu lalu. Menerjemahkan musik klasik agar mudah diterima masyarakat awam.

Untuk nomor perdana, Avip akan membawakan Simfoni Nr 7 karya LV Beethoven. Karya tersebut merupakan karya simfoni pertama yang dibawakannya saat menempuh diploma di University of Music and Performing Art di Vienna, Austria. Lewat musik itulah ia berhasil memperoleh peringkat distinction dengan pujian semua profesor kala itu. “Itu jadi momen yang meyakinkan saya bahwa saya bisa menjadi konduktor orkestra. Karena sebelumnya saya hanya menjadi konduktor untuk paduan suara saja,” lanjutnya.

Di nomor terakhir, ada karya berjudul Gloria karya Francis Poulenc yang akan dibawakan bersama solois ternama Jerman, Bettina Jensen. Komposisi itu pertama kali didengarnya saat duduk di bangku kuliah. Karena Gloria, hati nya tergerak untuk mendalami musik klasik. “Saya sudah dekat dengan dunia paduan suara sejak sekolah. Tapi biasanya dulu kita tahunya paduan suara bernyanyi lagu-lagu Indonesia saja. Tapi saat mendengar karya ini, saya tergerak untuk mendalami paduan suara. Saya jatuh cinta dan memutuskan untuk menggeluti musik klasik secara serius.” Bila dipandang dari kacamata seni, Gloria memiliki muatan yang unik jika dibandingkan dengan kebanyakan musik klasik. Penciptanya, Poulenc, membawakan lagu yang bernuansa gereja itu dengan unsur humor di dalamnya. “Ada bagian-bagian yang seperti berdoa, tapi ada juga yang seperti menari. Dia membawa unsur humor pada lagu-lagu sakral. Menarik karena musik pada dasarnya adalah hal yang tak mengenal batas.”

Di tengah dua babak, terselip karya musik singkat berdurasi 10 menit saja. Walau pendek, pilihan lagu berjudul Titah ini merupakan perlambang obsesi Avip sebagai seorang konduktor. Titah yang khusus diciptakan Fero Aldiansyah untuk konser ini diangkat dari surah Al-Hujuraat ayat 13. Isinya menyatakan bahwa manusia memang diciptakan berbeda-beda, tapi pada hakikatnya satu keturunan. Perbedaan itu justru ada supaya manusia dapat lebih mengenal dan belajar satu dengan yang lainnya. “Ini obsesi saya untuk membawa nuansa berbeda dalam orkestra klasik yang umumnya didominasi musik-musik gereja,” kata Avip.

Meski mendalami teknik arsitektur saat kuliah, Avip malah menjadi pianis setelah lulus. Selepas studi musiknya di Austria, ia membangun kelompok paduan suara Batavia Madrigal Singer dan Jakarta Chamber Orchestra yang kini disebut Jakarta Concert Orchestra. Kala itu tantangannya memang besar. Untuk mengikuti kompetisi internasional, Avip dan kawan-kawan rela mengeluarkan biaya sendiri. Semua dilakukan swadaya saja, walau ada beberapa donasi kecil yang diterima.

Bagi Avip, kompetisi internasional dinilai penting untuk meningkatkan standar kualitas dan menambah jejaring, sekaligus menjadi kesempatan untuk membawa dan mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia. Komunikasi Menjadi konduktor bukanlah pekerjaan mudah. Tak hanya memahami musik klasik, konduktor juga harus mengenal sejarah, membedakan mana yang gaya klasik, romantis, renaisans, dan sebagainya. “Karena garis melodi selalu berbeda tiap zaman,” jelas konduktor yang baru meraih predikat dirigen terbaik di Spanyol itu.

Konduktor, lanjutnya, juga mirip dengan koki di dapur. Itu seperti memasak spageti saja, Avip mengibaratkan. Harus ada bumbu yang tepat dan cara masak tertentu. Jika kurang bumbu sedikit saja, orang akan tahu bahwa itu bukan spageti betulan. Intinya, konduktor itu seorang komunikator. Lewat konduktor, masyarakat bisa menikmati musik yang dibawakan. “Tugas beratnya adalah bagaimana membawa musik untuk dapat berkomunikasi dengan penonton. Membuat yang menonton merasa enjoy dengan musik klasik.

” Walau sudah banyak dilirik, menurut Avip, perkembangan musik klasik di Indonesia masih terkendala banyak halangan, terutama masalah persepsi tentang musik klasik yang dinilai sulit dimengerti dan hanya bisa dinikmati kalangan atas saja. Padahal di Eropa, musik klasik dimainkan di mana saja, mulai di pinggir jalan hingga di gedung-gedung mewah. Memang diakui Avip, tak semua orang bisa menikmatinya. Ada segmen khusus yang tak seluas musik pop, tapi segmen ini bukan disekat oleh kasta, tapi oleh kemampuan penonton untuk memahami karya. (M-6) christine@mediaindonesia.com

BIODATA

Nama : Avip Priatna Mag Art
Tempat, tanggal lahir : Bogor, 29 Desember 1964
Alamat : Jl Kertanegara No.28, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telepon : 7201918
Pendidikan : S-2, magister Artium University of Music and Performing Art, Vienna, Austria, dan sarjana arsitektur Unika Parahyangan, Bandung
Pekerjaan : Direktur Musik Jakarta Concert Orchestra dan Batavia Madrigal Singers dan Direktur Studio Musik Resonanz.Diundang sebagai pembicara dan juri kompetisi paduan suara baik nasional maupun internasional
Prestasi : Memenangi beberapa kompetisi paduan suara internasional

• 1995 Di Arnheim, Belanda, juara dan meraih penghargaan interpretasi lagu wajib terbaik karya Juriaan Andersen, Belanda
• 1997 Di Arezzo, Italia, juara dan peringkat 3
• 2000 Di Linz, Austria, peringkat 2 dan peringkat 3
• 2001 Di Tours, Prancis, juara dan meraih penghargaan interpretasi lagu Prancis terbaik
• 2003 Di Marktoberdorf, Jerman, juara dan meraih penghargaan interpretasi lagu sakral terbaik
• 2008 Di Spittal, Austria, peringkat 2 dan peringkat 3
• 2009 Di Maribor, Slovenia, peringkat 3
• 2010 Di Arezzo, Italia, peringkat 2 dan meraih penghargaan lagu wajib terbaik karya GL Palestrina
• 2011 Di Torrevieja, juara umum, juara Habanera, interpretasi karya Habanera terbaik, juara favorit penonton, dan konduktor terbaik

Pengalaman pentas :
• Konser di Indonesia, Belanda, Italia, Austria, Prancis, Jerman, Hongaria, Jepang, Singapura, Taiwan, Makau, Spanyol, Slovenia, Ceko, Slovakia,
• Pernah direkam Warner Classic Jepang, bersama Orchestra Ensemble Kanazawa Jepang membawakan karya Carl Maria von Weber
Keluarga : Lajang

http://mirror.unpad.ac.id/koran/mediaindonesia/2011-12-02/mediaindonesia_2011-12-02_021.pdf