Batavia Madrigal Singers, Avip Priatna, Klasik, Indonesia

  • ABOUT
    The King’s Witch, 1 & 2 Desember 2006, 20.00 WIB, Graha Bakti Budaya TIM,
    JakartaOpera kontemporer karya Tony Prabowo. Kisah tentang Calon Arang yang ditulis
    oleh Goenawan Mohamad dengan interpretasi yang berbeda.

    Pada awalnya, The King’s Witch merupakan “pesanan” (commission) dari Lloyd B.
    Erikson pada Tony Prabowo, sebagai bentuk penghargaan bagi Eben W. Erikson dan
    Marie B. Erikson. Penampilan perdana The King’s Witch dibawakan oleh The New
    Juilliard Ensemble dengan konduktor Joel Sachs, pada 21 November 2000 di Alice
    Tully Hall, Lincoln Center, New York. Dengan adanya keterbatasan dana dan ruang
    panggung, karya yang ditulis sebagai opera, diperdanakan tanpa pemanggungan.

    The King’s Witch berkisah tentang Calon Arang, seorang penyihir perempuan asal
    Jawa yang tinggal di Girah, Kediri, di Abad 12. Ia memiliki seorang anak
    perempuan yang sangat cantik bernama Manjali, yang tidak kunjung menemukan
    pasangan hidup karena seluruh laki-laki takut terhadap ibunya. Nasib Manjali
    yang kurang beruntung ini membuat Calon Arang sedemikian marahnya hingga Calon
    Arang menyebarkan wabah penyakit yang sangat mematikan ke seluruh Kerajaan
    Kediri. Untuk menghadapi masalah ini, Raja Airlangga menyuruh pendetanya yang
    paling terhormat, Empu Bharada, Untuk menyingkirkan Calon Arang.

    Hal ini bukan tugas yang mudah bagi Empu Bharada, mengingat Calon Arang
    memiliki kitab yang berisi mantra-mantra sihir yang membuatnya tak terkalahkan.
    Untuk menyingkirkan Calon Arang, Empu Bharada harus terlebih dulu merebut buku
    tersebut. Sebagai awalan, ia merencanakan pernikahan antara salah satu muridnya
    dengan Manjali. Pada suatu malam setelah akhirnya mereka menikah, pasangan
    pengantin tersebut mencuri kitab suci Calon Arang. Seketika itu juga Calon Arang
    kehilangan kekuatannya, dan dengan mudah dapat dibunuh.

    Secara tradisional, legenda di atas diceritakan dari sudut pandang raja.
    Walaupun demikian, Calon Alang dan penduduk desa Girah bisa saja memiliki versi
    cerita yang berbeda kalau saja mereka diberi kesempatan untuk bercerita.

    Berangkat dari premis di atas, Goenawan Mohamad menginterpretasi ulang kisah
    tentang Calon Arang. Di sini, cerita dilihat dari kaca mata Calon Arang, anaknya
    Manjali, dan Raja Airlangga, dalam rangkaian image yang berpusat pada Manjali,
    yang terjebak di antara plot terencana Sang Raja dan cintanya pada ibunya.

    Berbeda dari opera pada umumnya, naskah ini tidak berupa aria (dialog yang
    dinyanyikan), melainkan puisi-puisi panjang yang dibawakan dengan cara
    bernyanyi.

    Komponis dan Pengarah Musik: Tony Prabowo
    Penulis Naskah (libretto): Goenawan Mohamad
    Sutradara: Yudi Tajudin
    Desainer Panggung dan Tata Cahaya: Iskandar Loedin
    Penata Suara: Totom Kodrat
    Manajer Panggung: Toto Arto.

    Menampilkan:
    * Continuum Ensemble (New York), dengan Joel Sachs sebagai dirigen
    * Batavia Madrigal Singers, dengan Avip Priatna sebagai chorus master
    * Abigail Fischer (Canada), sebagai Manjali
    * Bo Chang (Korea), sebagai Calon Arang
    * Michael Smallwood (Inggris), sebagai Raja Airlangga
    * Aktor-aktor dari Teater Garasi.

    Juga menyajikan:

    Pastoral, 1 & 2 Desember 2006, 20.00 WIB, Graha Bakti Budaya TIM, Jakarta

    Musik untuk 2 vokal dan kuartet gesek, dengan pemanggungan. Pastoral merupakan
    rangkaian 12 puisi tentang kebahagiaan seperti yang ditemukan dalam pengalaman
    sensual; jelas dan singkat. Atau juga seperti pagi hari di suatu desa di Bali.

    Komponis dan Pengarah Musik: Tony Prabowo
    Puisi dan Sutradara: Goenawan Mohamad
    Koreografer: Okty Budiati.

    Menampilkan:
    * Momenta Quartet (New York), string quartet
    * Nyak Ina Raseuki (aka Ubiet), soprano
    * Binu Sukaman, soprano

    Tiket
    Kelas 1 – Rp 150.000
    Kelas 2 – Rp 100.000
    Balkon – Rp 50.000

    Ticket box: Graha Bakti Budaya TIM
    Fenia 0818.88.00.10