Antara / dok

SIMFONI UNTUK BANGSA – Konduktor yang juga komposer Avip Priatna saat berlatih bersama dengan pemain orkestra the Resonanz Music Studio jelang perhelatan konser “Simfoni untuk Bangsa” di Balai Resital, Kartanegara, Jakarta, Senin (8/9) malam.

Regenerasi penting untuk perkembangan orkestra di Tanah Air.

JAKARTA – Anak-anak cilik itu menari sambil menyanyikan lagu daerah Bali, “Janger”. Dengan menggunakan pakaian adat Bali, mereka tak segan untuk menari. Bahkan, aksi mereka di panggung mengundang tawa penonton. Usai itu, tepuk tangan meriah penonton membahana di ruangan itu.

Tak heran, jika paduan suara The Resonanz Children Choir (TRCC) itu mampu menyihir penonton. Pasalnya, mereka baru saja mendapatkan penghargaan Cantemus International Choir Festival pada Agustus 2014 di Nyiregyhaza, Hungaria sebagai juara utama. Anak didik Avip Priatna ini juga mendapatkan penghargaan di antaranya Golden Award, Audience Award, dan Outstanding Conductor.

TRCC juga membawakan “Nyanyian Gembira” yang merupakan gabungan dari tiga lagu karya Mochtar Embut seperti “Hari Ini Kita Berkumpul”, ”Ibu Guru Kami”, dan “Prajurit Kita” dengan alunan nada dari Jakarta Concert Orchestra (JCO). Lagu yang diaransemen kembali oleh Ferro Aldiansya mampu mengajak penonton bernostalgia.

Malam itu, konduktor Avip Priatna tampil maksimal dalam konser “Simfoni untuk Bangsa 2014“ di Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Kamis (11/9).

Ia bersama JCO, Batavia Madrigal Singers (BMS), TRCC, dan The Resonanz Youth Choir (TRYC) sukses membawakan beberapa lagu karya Ismail Marzuki, Mochtar Embut, serta lagu daerah dan nasional. Mereka juga dibantu Dani K Ramadhan (selo), Farman Purnama (tenor), Heny Janawati (mezzo sopran), dan Valentina N Aman (sopran).

Lagu-lagu karya Mochtar Embut dan Ismail Marzuki mendominasi repertoar. Pasalnya, konser ini digelar untuk memperingati 100 tahun Ismail Marzuki dan 80 tahun Mochtar Embut. Salah satu karya Guruh Soekarno Putra berjudul “Indonesia Djiwaku” turut dibawakan. Lagu ini dinyanyikan Farman Purnama. Dalam konser ini, ia membawakan sekitar lima lagu seperti “Diwajahmu Kulihat Bulan”, “Rindu Lukisan”, dan “Sarinande”.

Beberapa lagu terkenal milik Ismail Marzuki turut dibawakan seperti “Wanita”, “Payung Fantasi”, dan “Kopral Jono”. Karya-karya populer Mochtar Embut seperti “Varia Ibu Kota” dan “Bujang Dara”.

Mengenal Ismail Marzuki
Avip ingin mengingatkan penonton akan masa-masa saat Ismail Marzuki dan Mochtar Embut berkarya. Menurutnya, mereka telah memberikan sumbangsih yang besar bagi industri musik Tanah Air. Karena itu, untuk menghormati karya-karyanya, ia mengangkat tema itu dalam konser ini.

“Tujuannya, kita ingin mengingatkan lagi tentang musik Indonesia bahwa kita mempunyai Ismail Marzuki dan Mochtar Embut. Ini merupakan lagu-lagu pop lama, tapi dibalut dengan orkestra. Sayang, kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikan. Kalau di luar negeri, karya-karya musikus hebat seperti Frank Sinatra itu diulang-ulang,” katanya.

Hingga kini, tidak ada komposer seperti mereka yang dapat membuat melodi dan syair indah. Bahkan, karya-karyanya masih tetap relevan dalam kehidupan modern.

“Sekarang komposer nggak ada yang seperti itu, puitis syairnya. Kita harus balance dari segala hal yang serbainstan dan gampang dicerna. Kita ingin ingatkan bahwa dulu ada loh komposer Indonesia yang dapat menciptakan melodi indah dengan syair puitis,” ujarnya.

Begitu juga dengan lagu-lagu daerah dan anak-anak yang sangat jarang dipentaskan. Apalagi, lagu-lagu itu ditampilkan dalam alunan orkestra. Oleh karena itu, mereka mencoba mengaransemen kembali dengan menggandeng komponis-komponis muda. “Saya selalu meminta komponis-komponis muda untuk mengaransemen lagu lama menjadi fresh lagi. Kita kasih kesempatan untuk mereka. Jadi, ada sesuatu yang baru,” ia menjelaskan.

Ini menjadi tantangan bagi komponis muda untuk mengaransemen musik pop lawas. Misalnya, lagu “3 Wajah Ismail Marzuki” yang diaransemen kembali oleh Fero Alidansya. Ia harus menggabungkan tiga lagu ciptaan Ismail Marzuki.

“Itu lagu gabungan di antaranya ada lagu ‘Sabda Alam’. Itu menjadi tantangan bagi komposer. Lagu ini juga agak sulit karena memakai pemain selo. Kita harus saling komunikasi. Dia bikinnya cukup menantang,” ucapnya.

Baginya, regenerasi penting untuk perkembangan orkestra di Tanah Air. Apalagi, musik klasik sudah menjadi musik dunia. Untuk dunia internasional, musik ini sudah luas dan diterima di berbagai negara. “Musik ini yang dapat diterima oleh Rusia, Eropa, dan Amerika Serikat. Dengan orkestra, kita dapat didengar secara luas,” ujarnya.

Sumber : Sinar Harapan

http://sinarharapan.co/news/read/140912057/indonesia-dalam-orkestra-span-span-