Jalan Panjang Arsitek Musik Indonesia

TEMPO.COJakarta – Avip Priatna merupakan lulusan Teknik Arsitektur Universitas Parahyangan. Namun pria yang menggelar “Konser Emas 50 Tahun Avip Priatna” di Balai Resital Kertanegara, pada akhir Januari lalu, tak berkecimpung dalam dunia rancang bangunan. (baca: Persembahan Konser Emas Avip Priatna)

Justru dia malah memilih mengarsiteki paduan suara dan besar di dunia musik klasik. Kecintaannya pada dunia paduan suara dan musik klasik tumbuh saat dia kuliah. “Biasanya saya buru-buru kabur dari kelas dan lari ke tempat latihan paduan suara atau latihan piano,” ujar Avip mengenang saat-saat indah bersama kelompok paduan suaranya.

Begitu lulus kuliah, Avip terbang ke Vienna, Austria, untuk belajar konduktor paduan suara kepada Profesor Gunther Theuring dan orchestral conducting kepada Leopold Hager di Hochschule fur Muzick und Darstellende Kunst dan lulus pada 1998 dengan predikat high distinction. Selama di Austria, ia bergabung dengan banyak kelompok kor prestisius dan pernah menjadi asisten konduktor di Wiener Jeunesse Choir. (Baca: Komposer Klasik Vivaldi Hibur Publik Surabaya)

Karier Avip menjadi konduktor profesional diawali dengan pementasan Requiem karya Mozart bersama paduan suara mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan pada 1991. Pada 2002, dia mendirikan Jakarta Concert Orchestra. Sejak itu, dia mulai tampil di sejumlah orkestra internasional, seperti Orchestra Ensemble Kanazawa, Jepang, dan Macau.

Kerja kerasnya membuahkan hasil ketika Avip membawa grupnya memenangi sebuah kompetisi paduan suara internasional bergengsi di Floriledge Vocal de Tours Prancis pada 2011 dan sebuah kompetisi paduan suara di Belanda pada 2005 (Baca: Lagu Kiamat Batavia Madrigal Singers)

“Itu perjuangan banget, harus cari duit, dari jualan bubur, mencari anggota yang solid, latihan, dan akhirnya menang,” ujarnya.

Pada Juli 2011, Avip menyabet penghargaan Premio a la Mejor Dirección ”Hódar José Talavera” untuk konduktor terbaik dalam kompetisi paduan suara internasional ke-57 Certamen Internacional de Habaneras y Polifonia. Kompetisi ini berlangsung di Torrevieja, Spanyol. Tak hanya Avip, bersama Batavia Madriagal, mereka memenangi empat penghargaan lain. (Baca: Batavia Madrigal Siap Bersaing di Eropa)

Titel sebagai konduktor terbaik juga diraih dalam kompetisi tahunan 34th International May Choir Competition Prof Georgi Dimitrov pada 2012 di Varna, Bulgaria. Dia dan Batavia Madrigal Singers meraih angka tertinggi untuk kategori paduan suara kamar dan paduan suara campuran. Dengan kemenangan itu, mereka menjadi wakil Asia untuk kejuaraan Grand Prix di Arezzo, Italia, pada 2013. Setahun kemudian, paduan suara anak-anak di The Resonanz pun meraih grand prize di 10th Cantemus International Choir Festival yang diselenggarakan di Nyíregyháza, Hungaria.

Sukses membentuk kelompok paduan suara, orkestra, tahun lalu mimpi Avip untuk mempunyai gedung konser musik terwujud. Balai Resital Kertanegara, gedung berkapasitas 300 kursi dengan berbagai kelengkapannya itu, resmi digunakan sebagai gedung konser musik pada 25 Mei 2014. Tapi Avip masih mempunyai impian lain yang menurut dia tak muluk-muluk. “Inginnya punya gedung konser yang lebih besar dan mengembangkan musik klasik yang bisa dinikmati orang banyak,” ujarnya. (Baca: Batavia Madrigal Singers Juara Umum di Bulgaria)

Pria berkacamata ini boleh berbangga hati. Hasil kerjanya mulai menuai hasil. Dia cukup senang melihat masyarakat mulai mengapresiasi musik, musik klasik, dan paduan suara. Setidaknya, dia melihat dari frekuensi penyelenggaraan konser dan gedung pertunjukan yang penuh. “Itulah yang mendorong saya mendirikan balai resital ini.”

Avip pun sadar akan belantara dan kondisi masyarakat serta apresiasi terhadap musik klasik. “Butuh waktu, tapi sudah makin banyak orang tahu yang bagus, kritis, dan mengapresiasi.” (Baca: Batavia Madrigal Singers Sihir Jakarta)

Katrina, salah satu guru Avip, menilai muridnya adalah seorang musikus yang punya komitmen dan integritas tinggi di bidang yang digelutinya.

“Dia kuat memegang keinginannya, kerja keras, dan pantang menyerah meraih cita-citanya,” ujarnya.(Baca: Avip Priatna: Gedung Pertunjukan di Indonesia)
DIAN YULIASTUTI | HP

http://www.tempo.co/read/news/2015/01/31/112638966/Jalan-Panjang-Arsitek-Musik-Indonesia